Ayame melanjutkan perjalanan menegangkannya. Kali ini dia akan mendatangi
kuburan untuk mendapatkan pedang setan. Tak hanya itu, dia juga akan melawan Musashi,
Sang Hantu raksasa tanpa kepala. Tapi menurut teman-temannya,
kepalanya digenggam di tangan kanannya. Sementara tangan kiri memegang pedang
untuk menebas para musuhnya. “Aku jadi penasaran untuk bertemu si Musashi
itu. Semoga aku bisa kuat menghadapinya”, harap Ayame.
Dia Sudah sampai di gerbang kuburan. Dia melihat banyak ninja dan ada hantu
kayu yang membawa panah. Dia pun berusaha membunuh mereka secara
sembunyi-sembunyi. Dia juga harus memecahkan batu-batu keramat
yang berada di setiap perjalanannya supaya ada semacam “pencerahan” untuk
mendapatkan pedang setan itu. “Straatttt..” Ayame berhasil membunuh para
ninja. Sayangnya, dia tak bisa membunuh para hantu kayu. Dia
menyadari bahwa para hantu itu harus dibunuh dengan pedang
setan.
Dia seolah masih penasaran dengan semua itu. Dia kembali dipertemukan
dengan hantu macam Tuyul dan setan kepala. Tetap saja
tak mempan dalam menghadapinya, malah Ayame mendapatkan semburan mengerikan
dari si Tuyul itu. “Buurrr..” pakaian Ayame sedikit
terbakar. Kemudian Ayame menyiramkan air sekalian kabur dari sana. “Sempet aku
meremehkannya, nyatanya dia kuat juga.” Aku tak akan menghadapi para hantu itu
karena tak ada gunanya. Memang benar, mau memakai senjata apapun, dikasih
makanan beracun apapun, mereka tak ngefek sehingga membuat Ayame kesal. Apalagi
ditambah dengan teror para hantu
tersebut yang selalu ada ketika Ayame berusaha memecahkan batu-batu keramat
yang berada di kuburan itu.
Setelah semua hancur, akhirnya
Ayame menemukan pedang setan itu di sebuah rumah gubuk yang berada dekat makam Musashi,
si Hantu tanpa kepala. “Akhirnya, aku mendapatkannya..”
Tiba-tiba datanglah suara menggelegar yang muncul di depan Ayame. Dia terkaget
ketika melihat sosok Musashi yang lima kali lipat lebih besar
dari tubuh Ayame. “Oh my god…ternyata
memang dia besar sekali. Memang benar apa yang diceritakan teman-temanku bahwa
kepalanya digenggam di kanan, sementara pedang besar berada di tangan kiri. Aku
harus bisa mengalahkannya.”
“Haahahaaa….” Si hantu terus tertawa sekaligus tanda pertarungan
antara dirinya dan Ayame dimulai. Si Hantu langsung menyerang secara membabi
buta kepada Ayame. Sementara Ayame sendiri berusaha menghindar secepat mungkin
dan mengeluarkan pedang setan yang sudah didapatkannya. “Sringgg..”
keluarlah pedang setan dan beberapa kali mampu mengenai tubuh
bagian belakang Musashi. “Grrrr..” Musashi marah kemudian
loncat sejauh 5 meter yang membuat Ayame keteteran. Dia menerima injakan badannya yang besar itu hingga
dirinya hampir mati.
“Uhggg…”
suara Ayame itu menandakan bahwa dia dalam keadaan kritis. Dia berusaha
sembunyi terlebih dahulu dan meminum ramuan jitu supaya fit kembali. Setelah
fit, kemudian dia menyerang kembali lewat cara kombinasi dan variasi. “Kali ini kau siap kalah, Musashi”,
optimis Ayame. Dia mengeluarkan bom asap dikombinasikan dengan bom cahaya
sehingga membuat si Musashi kebingungan. Di saat itulah, Ayame kembali
mengeluarkan jurus jitunya memakai pedang setan. “Sttttttrrrrr….”
Musashi pun mati tak berdaya lidahnya pun menjulur sepanjang dua
meter. “Menjijikan…aku harus segera keluar dari tempat angker ini”, ucap Ayame.
Dia pun berusaha keluar meski masih banyak hantu macam tuyul dan setan
kepala menggggunya. Tapi dengan pedang setan itu, Ayame mampu
mengalahkan mereka semua dengan cepat.
“Setelah ini
mungkin aku akan ke perkampungan itu untuk bertemu Rikimaru beserta Tesshu. Semoga
bukan bualan belaka dari mereka berdua.” Ayame pun kembali melanjutkan
petualangannya dan target selanjutnya menuju perkampungan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar