Kamis, 22 Desember 2016

Fenomena Telolet yang Mendunia

Sebenarnya ini adalah hal sepele untuk dibahas, tapi malah jadi unik karena hal itu menjadi trending topik dunia. “Om Telolet Om” sudah membuat dunia gempar dari mulai anak-anak hingga dewasa menggandrungi frasa yang satu ini. Telolet sendiri adalah klakson yang dinyalakan oleh pengemudi bus dengan tujuan menyenangkan anak-anak.



Ya, anak-anak selalu menunggu bahkan mencegat bus hanya untuk mendengar bunyi telolet dari bus. Bila dinyalakan, anak-anak bakal ceria dan senang. Sementara bila lewat, teriakan “Huuu” akan menghiasi bus yang lewat itu. Sungguh, bahagia itu sederhana banget.
Di saat negara ini tersangkut masalah dari mulai politik, ekonomi, hingga olahrga, ada sedikit oase untuk melepas dahaga masalah itu. Hiburan yang sangat murah, meriah, dan menyenangkan. Gue sangat terharu dan pengen mewek ketika melihat anak-anak ceria dengan hiburan yang disajikan bus telolet. Jadi miris juga memang karena zaman sekarang sudah tak dilestarikan permainan tradisional seperti masa-masa gue kecil.


Sekarang kebanyakan sudah fokus akan HP, laptop, netbook, dan alat eletronik lainnya. Tak ada sedikitpun waktu untuk setidaknya refresh dengan bermain atau melestarikan permainan tradisional. Gue bersyukur dengan adanya telolet ini setidaknya anak-anak bisa menemukan keceriaan, meski entah sampai kapan waktunya. Gue hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada para pengemudi yang sudi menyalakan teloletnya. Apalagi sering sekali telolet itu membawakan lagu-lagu anak dan juga lagu khas daerah-daerah di Indonesia.
Ajib pokoke..”Om Telolet Om”


Rabu, 14 Desember 2016

Bersyukurlah, Timnas Garuda...


Jalan untuk menjadi seorang juara memang sangat terjal. Maka dari itu, perlu yang namanya berusaha semaksimal mungkin untuk merealisasikan hal tersebut. Timnas Indonesia tak disangka-sangka bisa lolos ke babak final setelah mampu lolos dari grup ‘Neraka’ yang diisi Thailand, Singapura, dan Philipina. Di babak semifinal, timnas Garuda juga mampu menjungkalkan tim yang terbilang diperhitungkan di AFF kali ini, yakni Vietnam.
Perjalanan timnas Garuda memang sangat terjal sekali untuk mencapai final. Bagaimana sebelum itu semua, Garuda harus bermasalah dengan para pemain yang dibatas oleh para peserta TSC (Torabika Soccer Championship. Hal itu membuat Riedl agak sulit untuk mencari kerangka terbaik buat timnas. Akhir dari semua itu, Riedl harus puas memanggil maksimal dua pemain di setiap klubnya. Sungguh ironi di tengah asa Garuda ingin mendapatkan gelar juara untuk pertama kalinya di AFF kali ini. Tapi Riedl tak mengeluh, dia tetap memberikan ucapan terima kasih kepada para tim yang sudi memberikan dia solusi untuk pondasi timnas Garuda.

Untuk kali ini bukan Riedl tak hanya mengambil dari tim ternama macam Persib Bandung, Persija Jakarta, Arema Malang, maupun Sriwijaya FC. Akan tetapi Riedl juga memanggil para pemain dari tim-tim lain macam Barito Putera dan PS TNI. Riedl benar-benar berusaha membuat pondasi timnas tidak diisi mayoritas para pemain yang sudah mempunyai nama besar, tapi dia juga membawa para pemain  yang potensial dan mempunyai masa depan cerah di timnas Indonesia.
Perjalanan pun dimulai tatkala Garuda harus bertemu dengan tim favorit juara, Thailand. Indonesia yang baru setahun vakum di dunia pesepakbolaan langsung saja “ditampar” habis oleh mereka. Terasil Dangda mampu membuat Garuda tersungkur dengan hattrick, begitupun dengan salah satu pemain dari Gajah Putih yang mampu menjebol gawang Meiga. Sementara timnas Garuda hanya bisa membalas lewat sundulan Fakhrudin dan Rizky Pora. Awal yang buruk buat timnas,tapi Riedl tetap percaya bahwa semuanya akan indah pada waktunya.
Di laga selanjutnya mereka harus menghadapi yang mayoritas para pemain naturalisasi. Sempet unggul dua gol via dwigol Boaz Salossa, mereka akhirnya harus puas ditahan imbang oleh tim satu ini setelah mereka berhasil mencetak dua gol dalam 10 menit terakhir. Semua begitu kecewa dan sepertinya harapan itu akan musnah dikarenakan timnas baru mengantongi satu poin dari dua laga. Sementara yang lainnya berada di atas mereka, Thailand 6 poin, Philipina 2 poin, Singapura 1 poin, tapi unggul agregat gol atas Garuda.
Laga terakhir yang sangat menentukan harapan Indonesia untuk menuju babak selanjutnya. Menang pun belum tentu lolos andaikan Philipina mampu menjungkalkan Thailand di laga pamungkas ini. Jalan semakin terjal dan sulit ketika Singapura mampu menjebol gawang Indonesia. Namanya Indonesia, pasti tak akan menyerah sedikitpun. Lewat permainan cepat dan sporadis, mereka mampu menyamakan kedudukan lewat tendangan voli Andik Vermansyah. Bahkan, sebelum laga berakhir, mereka berhasil mencetak gol kemenangan lewat Lilypali. Semuanya gembira akan hasil ini dikarenakan Philipina kalah tipis oleh Thailand sehingga Indonesia lolos ke babak semifinal.
…Semifinal…
Di babak semifinal yang diselenggarakan di Bogor ini, Riedl mencoba lebih tenang karena akan melawan mantan tim anak asuhnya. Di leg pertama saja, Vietnam mampu membuat repot pertahanan Indonesia. Tapi timnas Garuda mampu membuat stadion bergemuruh setelah Hansamu Yama mampu mencetak gol lewat sundulan tajamnya. Pantaslah pemuda potensial yang satu ini dijuluki “Ramos” Indonesia. Namun, tak berselang lama Vietnam mampu menyamakan kedudukan lewat tendangan penalty. Alhamdulillah, Indonesia bisa mencetak gol lewat titik putih setelah Lilipaly dijatuhkan di kotak penalty. Boaz yang berperan sebagai algojo, berhasil mencetak gol dan membuat Indonesia unggul 2-1 di leg pertama semifinal AFF 2016.
Di leg kedua, Indonesia harus merasakan  “Serangan tujuh hari tujuh malam “ yang disajikan Vietnam di sepanjang laga. Meskipun begitu, Garuda mampu mencuri gol lewat serangan balik cepat yang dilakukan oleh Boaz dan Pora. Umpan Boaz keliru diantisipasi oleh kiper dan bek Vietnam sehingga mampu dicocor oleh Lilipaly. Tak mudah memang menundukan permainan agresif macam Vietnam. Meski mendapat sial setelah kipernya dikartumerah, mereka malah mampu membalikkan keadaan menjadi 2-1 sehingga agregat gol sama kuat dan dilanjut ke babak ekstra time.
Nyatanya di babak ekstra time, permainan Vietnam udah kolaps sehingga Indonesia mampu mendapatkan momennya. Mereka berhasil mendapat penalty setelah Ferdinand dijegal di kotak terlarang. Manahati Lestusen tak menyia-nyiakan peluang emas ini dan mencetak gol untuk menyamakan kedudukan menjadi 2-2 (agg 3-4) buat keunggulan Indonesia. Hingga akhirnya Indonesia mampu mempertahankan kedudukan untuk mencapai babak final. Mereka sudah ditunggu oleh Thailand yang sangat perkasa atas Myanmar di babak semifinal. Semuanya bersyukur karena di sepanjang pagelaran ini mereka diremehkan, dicaci maki, dibully habis akibat performa para pemainnya yang tak konsisten.

(Bersyukur bisa mencapai final di tengah keterbatasan para pemain terbaik negeri ini)

Laga final pertama diselenggarakan di kandang Indonesia, tepatnya di Bogor. Asa dan harapan masyarakat Indonesia kian terbuka dengan tercapainya final untuk ke sekian kalian. Indonesia tak ingin kembali mengulangi kesedihan seperti tahun 2000 dan 2002 dimana mereka mampu dipecundangi Thailand di babak final. Maka dari itu, laga kandang kali ini mereka berusaha sekuat mungkin untuk memberikan yang terbaik dengan kemenangan.
Jalan terjal dan menegangkan memang selalu hadir dikala melawan Thailand. Permainan atraktif nan cepat selalu disajikan Gajah Putih hingga Garuda sering tersungkur oleh mereka. Oleh sebab itu, Riedl mencoba bermain agak defensive dan sesekali melakukan serangan balik untuk menghancurkan pertahanan mereka. Semoga bisa merealisasikan juara tuk pertama kalinya dan menciptakan sejarah untuk kebaikan pesepakbolaan negara ini.

UPDATE: Alhamdulillah…Indonesia mampu menang atas Thailand, meski didapatkan dengan sangat sangat berat sekali. Sempat tertinggal lewat sundulan tajam dari Teraasil Dangda, Indonesia mampu bangkit di babak kedua lewat tendangan Rizky Pora dan sundulan Hansamu Yama. Meski dari cara bermain, Indonesia kalah telak oleh Thailand. Tapi setidaknya dengan hasil ini, mereka bisa “berbicara banyak” untuk leg kedua nanti. Harapannya semoga Riedl bisa meredam agresivitas permainan Thailand di leg kedua nanti.

Harapan dan Formasi yang gue diinginkan di leg kedua nanti:
Harapan gue adalah Indonesia bisa tampil tanpa beban supaya bisa lebih tenang dalam melawan agresivitas yang akan dilakukan “Gajah Putih” pekan ini. Rasa-rasanya memainkan dua penyerang itu lebih baik dan membuat lini tengah membentuk logo “tambah” supaya aliran di setiap lini bisa terhubung. Untuk lini belakang sendiri, sesekali harus bisa rajin membantu serangan karena terlalu kasihan kalau para pemain macam Boaz dan Pora tak ada yang mengcover di belakangnya.

Prakiraan Formasi yang gue inginkan: (4-4-2 dengan variasi 4-1-3-2).
Kiper: Kurnia Meiga (GK)
Bek: Beni Wahyudi (SB)- Hansamu Yama (CB)- Fakhrudin (CB)- Lestaluhu (SB)
Tengah: Bayu (Defensive Midfielder), Bayu Gatra (SMF), Rizky Pora (SMF), Evan Dimas (OMF)
Depan: Boaz (CF) dan Ferdinand (CF).

Dengan formasi yang disajikan ini, setidaknya Riedl bisa lebih seimbang dalam melakukan penyerangan maupun pertahanan. Intinya, jangan sampai kebobolan supaya tak menurunkan tensi permainan Garuda. Evan bisa membagi dan mengalirkan bola ke belakang maupun ke depan dengan bantuan pemain sayap macam Bayu Gatra dan Pora. Sementara Boaz dan Ferdinand bisa melakukan gerakan tanpa bola di kala para pemain lain di lini kedua melakukan penyerangan. Untuk set piece tendangan penjuru atau tendangan bebas, bisa dikedepankan nama Fakhrudin dan Hansamu. Selain mempunyai postur ideal, mereka juga bisa memanfaatkan peluang sekecil apapun, baik itu dengan shooting maupun  heading.

Semangat Indonesia dan Realisasikan Juara AFF 2016









Senin, 12 Desember 2016

TORINO YANG SEMAKIN MENGGILA (CERITA FIKSI)


Gue sudah mau masuk musim ketujuh bersama Torino. Tim papan tengah yang satu ini membuat kejutan di pentas sepakbola. Eitsss...bukan di dunia nyata, tapi di dunia maya, tepatnya ketika gue berpetualang memakai klub ini di ajang Master League. Gue sengaja dan termotivasi untuk masuk ke EPL (harap maklum, bisa pindah liga) karena di sana terdapat tim-tim hebat macam MU, Arsenal, Chelsea, Liverpool, dan Man. City.

Ceritanya setelah gue berhasil naik ke EPL, gue langsung tancap gas untuk mengarungi musim perdana gue. Gue memboyong sebagian pemain bintang macam Kovacic, De Sanctis, dan Joel Obi. Mereka akan bahu membahu dengan para pemain yang sudah lama menghuni skuad Torino macam Bovo, Baselli, Benassi, dan Quagliarella. Musim perdana gue berakhir dengan juaranya gue bersama mereka. Quagliarella menjadi penyerang yang mempunyai insting yang sangat tajam di setiap laganya. Dia ditopang oleh gelandang-gelandang potensial macam Kovacic, Benassi, Joel Obi. Selain itu dia juga mampu berkolaborasi dengan para penyerang lain macam Belotti dan Baretto.
Merasa kurang ada persaingan di tim ini, akhirnya gue memboyong para pemain lain beserta membuang sebagian pemain lain demi kebaikan tim. Sampai musim ketujuh ini, gue sudah membeli pemain kurang lebih 15 pemain, diantaranya Wagener, Begovic, Zander, Mueller, Nuri Sahin, dan Kofi Adu. Merekalah yang mampu membangkitkan Torino menjadi semakin kuat di mata para lawan yang menghadang.
Gue tak menyangka banget klub macam Crystal Palace dan Leicester mampu bersaing dengan tim-tim besar yang sebelumnya gue sebutkan di atas. Nyatanya, mereka dalam beberapa musim ini sering menghuni lima besar. Paling greget tentunya ketika gue mengarungi Master League di musim kedua. Gue hampir saja tak bisa mempertahankan gelar gue ketika tim-tim macam Palace dan Arsenal berusaha merebut posisi puncak di tangan Torino. Untung saja, gue mampu mengalahkan kedunya di beberapa pekan terakhir sehingga gue mampu menjuarai kembali Liga.
Di kompetisi FA Cup dan Champions, gue juga mampu berbicara banyak dengan tim ini. Gue terus melakukan rotasi pemain untuk semakin meningkatkan yang namanya kompetisi di dalam tim. Sebenarnya gue paling sering memasang Kovacic, Benassi, Joel Obi, dan Mueller di setiap laga. Tapi untuk rotasi sendiri, gue memasukkan para pemain lain macam El-Kaddouri, Baselli, Kofi Adu, dan Ciuperca.

Masuk musim ketujuh, gue semakin menggila memakai tim yang satu ini. Mueller menjadi pembelian terbaik gue dengan berlari sendirian sebagai pencetak gol dengan koleksi 26 gol. Memang gila nih pemain yang satu ini. Dia selalu mencetak hattrick bahkan pernah sampai 7 gol dalam satu laga. Setidaknya gue bisa mengandalkan ketajaman si “Jangkung” ini, meski memang gue masih punya pemain macam Benassi, Belotti, dan Baretto. Lini tengah dan belakang gue juga semakin kuat dengan kedatangan Kofi Adu, Zander, Mbiwa, Begovic, Rafael, dan tentunya Nuri Sahin. Gue harus tetap menjaga konsistensi permainan di setiap laganya supaya gue bisa merealisasikan target juara di setiap musimnya (Gue udah beberapa kali treble winner lhoo). Gue akan mengulas pemain-pemain kunci sekaligus favorit gue di tim ini.

Pemain

De Sanctis (GK)
Kiper yang satu ini adalah kiper yang masih gue pertahankan sampai masuk musim ketujuh. Kiper yang tak terlalu banyak melakukan blunder di setiap laganya. Sering membuat penyelematan-penyelamatan
Bovo
Tembok kokoh di pertahanan tim gue. Pemain yang tak tergantikan di sektor pertahanan meski banyak pemain yang lalu lalang pergi dari klub ini. Meski ada Ballas, Mbiwa, Moretti, dan Vives, tapi gue tetap percaya pada kekuatan Bovo sebagai jendral di lini pertahanan.
Masiello
Pemain yang mempunyai kecepatan dan akselarasi ciamik. Terkadang gue menempatkan Masiello di posisi yang bukan bek. Jelas, karena dia mampu mendobrak lewat pertahanan lawan dengan skillnya yang istimewa. Meski harus bersaing dengan pemain macam Zander dan Gaston Silva, gue tetap mempercayakan masalah pertahanan maupun penyerangan pada dirinya.
Joel Obi
Penyeimbang di lini tengah. Salah satu pemain yang mempunyai kontribusi yang lebih dari memuaskan. Pemain yang mampu menjadi jangkar dan terkadang menjadi gelandang serang yang selalu memanjakan para pemain depan. Joel Obi hampir di setiap gue mainkan untuk membantu peran Kovacic dan Bennassi yang berada di sayap penyerangan.
Benassi
Pemain super cepat dan selalu meneror pertahanan lawan di setiap laga. Sering sekali membuat lawan kelabakan dengan akselerasi dan kecepatan yang di atas rata-rata. Gue sering memainkan pemain yang satu ini bersama Kovacic. Bila Kova berada di sisi kiri, maka Benassi berada di sisi kanan untuk merusak pertahanan lawan dari sayap.
Kovacic
Pemain yang gue bawa dari Madrid untuk mengangkat pamor El-Toro dan gue sukses membawanya dengan harga yang terjangkau. Dia mampu bermain di beberapa posisi, kecuali di belakang. Dia bisa menjadi penyeimbang dan juga menjadi seorang pemain sayap yang ganas. Bukan hanya itu saja, dia juga mampu memanjakan para penyerang dengan assistnya yang banyak. Pemain paling favorit yang gue punya saat ini.
Mueller
Pemain yang langsung mencuri perhatian gue. Pemain yang mempunyai segalanya. Kecepatan, akselerasi, dribble, agresi, dan juga sundulan tajam terpatri pada dirinya. Di musim pertamanya saja sudah membuat gol lebih dari 20 gol. Dan di musim keduanya, Mueller mampu menjangkau gol dari musim sebelumnya. Sudah hampir 30 gol yang dia cetak meninggalkan para pesaingnya macam Benassi, CR7, Ighalo, dan tentunya Kovacic. Kalau terus konsisten, dia akan terus berjaya dan tak akan terkejar oleh para pesaing lainnya di papan skor sebagai pencetak gol terbanyak. Bukan hanya di liga saja, melainkan di FA Cup dan Liga Champions Eropa.