Rabu, 14 Desember 2016

Bersyukurlah, Timnas Garuda...


Jalan untuk menjadi seorang juara memang sangat terjal. Maka dari itu, perlu yang namanya berusaha semaksimal mungkin untuk merealisasikan hal tersebut. Timnas Indonesia tak disangka-sangka bisa lolos ke babak final setelah mampu lolos dari grup ‘Neraka’ yang diisi Thailand, Singapura, dan Philipina. Di babak semifinal, timnas Garuda juga mampu menjungkalkan tim yang terbilang diperhitungkan di AFF kali ini, yakni Vietnam.
Perjalanan timnas Garuda memang sangat terjal sekali untuk mencapai final. Bagaimana sebelum itu semua, Garuda harus bermasalah dengan para pemain yang dibatas oleh para peserta TSC (Torabika Soccer Championship. Hal itu membuat Riedl agak sulit untuk mencari kerangka terbaik buat timnas. Akhir dari semua itu, Riedl harus puas memanggil maksimal dua pemain di setiap klubnya. Sungguh ironi di tengah asa Garuda ingin mendapatkan gelar juara untuk pertama kalinya di AFF kali ini. Tapi Riedl tak mengeluh, dia tetap memberikan ucapan terima kasih kepada para tim yang sudi memberikan dia solusi untuk pondasi timnas Garuda.

Untuk kali ini bukan Riedl tak hanya mengambil dari tim ternama macam Persib Bandung, Persija Jakarta, Arema Malang, maupun Sriwijaya FC. Akan tetapi Riedl juga memanggil para pemain dari tim-tim lain macam Barito Putera dan PS TNI. Riedl benar-benar berusaha membuat pondasi timnas tidak diisi mayoritas para pemain yang sudah mempunyai nama besar, tapi dia juga membawa para pemain  yang potensial dan mempunyai masa depan cerah di timnas Indonesia.
Perjalanan pun dimulai tatkala Garuda harus bertemu dengan tim favorit juara, Thailand. Indonesia yang baru setahun vakum di dunia pesepakbolaan langsung saja “ditampar” habis oleh mereka. Terasil Dangda mampu membuat Garuda tersungkur dengan hattrick, begitupun dengan salah satu pemain dari Gajah Putih yang mampu menjebol gawang Meiga. Sementara timnas Garuda hanya bisa membalas lewat sundulan Fakhrudin dan Rizky Pora. Awal yang buruk buat timnas,tapi Riedl tetap percaya bahwa semuanya akan indah pada waktunya.
Di laga selanjutnya mereka harus menghadapi yang mayoritas para pemain naturalisasi. Sempet unggul dua gol via dwigol Boaz Salossa, mereka akhirnya harus puas ditahan imbang oleh tim satu ini setelah mereka berhasil mencetak dua gol dalam 10 menit terakhir. Semua begitu kecewa dan sepertinya harapan itu akan musnah dikarenakan timnas baru mengantongi satu poin dari dua laga. Sementara yang lainnya berada di atas mereka, Thailand 6 poin, Philipina 2 poin, Singapura 1 poin, tapi unggul agregat gol atas Garuda.
Laga terakhir yang sangat menentukan harapan Indonesia untuk menuju babak selanjutnya. Menang pun belum tentu lolos andaikan Philipina mampu menjungkalkan Thailand di laga pamungkas ini. Jalan semakin terjal dan sulit ketika Singapura mampu menjebol gawang Indonesia. Namanya Indonesia, pasti tak akan menyerah sedikitpun. Lewat permainan cepat dan sporadis, mereka mampu menyamakan kedudukan lewat tendangan voli Andik Vermansyah. Bahkan, sebelum laga berakhir, mereka berhasil mencetak gol kemenangan lewat Lilypali. Semuanya gembira akan hasil ini dikarenakan Philipina kalah tipis oleh Thailand sehingga Indonesia lolos ke babak semifinal.
…Semifinal…
Di babak semifinal yang diselenggarakan di Bogor ini, Riedl mencoba lebih tenang karena akan melawan mantan tim anak asuhnya. Di leg pertama saja, Vietnam mampu membuat repot pertahanan Indonesia. Tapi timnas Garuda mampu membuat stadion bergemuruh setelah Hansamu Yama mampu mencetak gol lewat sundulan tajamnya. Pantaslah pemuda potensial yang satu ini dijuluki “Ramos” Indonesia. Namun, tak berselang lama Vietnam mampu menyamakan kedudukan lewat tendangan penalty. Alhamdulillah, Indonesia bisa mencetak gol lewat titik putih setelah Lilipaly dijatuhkan di kotak penalty. Boaz yang berperan sebagai algojo, berhasil mencetak gol dan membuat Indonesia unggul 2-1 di leg pertama semifinal AFF 2016.
Di leg kedua, Indonesia harus merasakan  “Serangan tujuh hari tujuh malam “ yang disajikan Vietnam di sepanjang laga. Meskipun begitu, Garuda mampu mencuri gol lewat serangan balik cepat yang dilakukan oleh Boaz dan Pora. Umpan Boaz keliru diantisipasi oleh kiper dan bek Vietnam sehingga mampu dicocor oleh Lilipaly. Tak mudah memang menundukan permainan agresif macam Vietnam. Meski mendapat sial setelah kipernya dikartumerah, mereka malah mampu membalikkan keadaan menjadi 2-1 sehingga agregat gol sama kuat dan dilanjut ke babak ekstra time.
Nyatanya di babak ekstra time, permainan Vietnam udah kolaps sehingga Indonesia mampu mendapatkan momennya. Mereka berhasil mendapat penalty setelah Ferdinand dijegal di kotak terlarang. Manahati Lestusen tak menyia-nyiakan peluang emas ini dan mencetak gol untuk menyamakan kedudukan menjadi 2-2 (agg 3-4) buat keunggulan Indonesia. Hingga akhirnya Indonesia mampu mempertahankan kedudukan untuk mencapai babak final. Mereka sudah ditunggu oleh Thailand yang sangat perkasa atas Myanmar di babak semifinal. Semuanya bersyukur karena di sepanjang pagelaran ini mereka diremehkan, dicaci maki, dibully habis akibat performa para pemainnya yang tak konsisten.

(Bersyukur bisa mencapai final di tengah keterbatasan para pemain terbaik negeri ini)

Laga final pertama diselenggarakan di kandang Indonesia, tepatnya di Bogor. Asa dan harapan masyarakat Indonesia kian terbuka dengan tercapainya final untuk ke sekian kalian. Indonesia tak ingin kembali mengulangi kesedihan seperti tahun 2000 dan 2002 dimana mereka mampu dipecundangi Thailand di babak final. Maka dari itu, laga kandang kali ini mereka berusaha sekuat mungkin untuk memberikan yang terbaik dengan kemenangan.
Jalan terjal dan menegangkan memang selalu hadir dikala melawan Thailand. Permainan atraktif nan cepat selalu disajikan Gajah Putih hingga Garuda sering tersungkur oleh mereka. Oleh sebab itu, Riedl mencoba bermain agak defensive dan sesekali melakukan serangan balik untuk menghancurkan pertahanan mereka. Semoga bisa merealisasikan juara tuk pertama kalinya dan menciptakan sejarah untuk kebaikan pesepakbolaan negara ini.

UPDATE: Alhamdulillah…Indonesia mampu menang atas Thailand, meski didapatkan dengan sangat sangat berat sekali. Sempat tertinggal lewat sundulan tajam dari Teraasil Dangda, Indonesia mampu bangkit di babak kedua lewat tendangan Rizky Pora dan sundulan Hansamu Yama. Meski dari cara bermain, Indonesia kalah telak oleh Thailand. Tapi setidaknya dengan hasil ini, mereka bisa “berbicara banyak” untuk leg kedua nanti. Harapannya semoga Riedl bisa meredam agresivitas permainan Thailand di leg kedua nanti.

Harapan dan Formasi yang gue diinginkan di leg kedua nanti:
Harapan gue adalah Indonesia bisa tampil tanpa beban supaya bisa lebih tenang dalam melawan agresivitas yang akan dilakukan “Gajah Putih” pekan ini. Rasa-rasanya memainkan dua penyerang itu lebih baik dan membuat lini tengah membentuk logo “tambah” supaya aliran di setiap lini bisa terhubung. Untuk lini belakang sendiri, sesekali harus bisa rajin membantu serangan karena terlalu kasihan kalau para pemain macam Boaz dan Pora tak ada yang mengcover di belakangnya.

Prakiraan Formasi yang gue inginkan: (4-4-2 dengan variasi 4-1-3-2).
Kiper: Kurnia Meiga (GK)
Bek: Beni Wahyudi (SB)- Hansamu Yama (CB)- Fakhrudin (CB)- Lestaluhu (SB)
Tengah: Bayu (Defensive Midfielder), Bayu Gatra (SMF), Rizky Pora (SMF), Evan Dimas (OMF)
Depan: Boaz (CF) dan Ferdinand (CF).

Dengan formasi yang disajikan ini, setidaknya Riedl bisa lebih seimbang dalam melakukan penyerangan maupun pertahanan. Intinya, jangan sampai kebobolan supaya tak menurunkan tensi permainan Garuda. Evan bisa membagi dan mengalirkan bola ke belakang maupun ke depan dengan bantuan pemain sayap macam Bayu Gatra dan Pora. Sementara Boaz dan Ferdinand bisa melakukan gerakan tanpa bola di kala para pemain lain di lini kedua melakukan penyerangan. Untuk set piece tendangan penjuru atau tendangan bebas, bisa dikedepankan nama Fakhrudin dan Hansamu. Selain mempunyai postur ideal, mereka juga bisa memanfaatkan peluang sekecil apapun, baik itu dengan shooting maupun  heading.

Semangat Indonesia dan Realisasikan Juara AFF 2016









Tidak ada komentar:

Posting Komentar